PEMBELAJARAN KOOPERATIF

A. Pembelajaran Kooperatif
Kauchak dan Eggen (dalam Ratumanan, 2004: 107) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan suatu kumpulan strategi mengajar yang digunakan siswa untuk membantu satu dengan yang lain dalam mempelajari sesuatu. Sedangkan menurut Thompson dan Smith (dalam Ratumanan, 2004: 107) yakni dalam pembeajaran kooperataif, siswa bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil untuk mempelajari akademik dan ketrampilan antar pribadi
Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu metode pembelajaran dengan cara mengelompokkan siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk bekerja sama dalam memecahkan masalah. Kemampuan siswa dalam setiap kelompok adalah hiterogen. Dalam pembelajaran kooperatif siswa tidak hanya sebagai objek belajar tetapi menjadi subjek belajar karena mereka dapat berkreasi secara maksimal dalam proses pembelajaran. Hal ini terjadi karena pembelajaran kooperatif merupakan metode alternatif dalam mendekati permasalahan, mampu mengerjakan tugas besar, meningkatkan keterampilan komunikasi dan sosial, serta perolehan kepercayaan diri.
Pembelajaran ini siswa saling mendorong untuk belajar, saling memperkuat upaya-upaya akademik dan menerapkan norma yang menunjang pencapaian hasil belajar yang tinggi. Dalam pembelajaran kooperatif lebih mengutamakan sikap sosial untuk mencapai tujuan pembelajaran yaitu dengan cara kerjasama.
Pembelajaran kooperatif mempunyai unsur-unsur yang perlu diperhatikan. Unsur-unsur tersebut sebagai berikut:
1. Para siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka “tenggelam atau berenang bersama”;
2. Para siswa memiliki tanggung jawab terhadap siswa lain dalam kelompoknya, disamping tanggungjawab terhadap dirinya sendiri, dalam mempelajari materi yang dihadapi;
3. Para siswa harus berpandangan bahwa mereka semuanya memiliki tujuan yang sama;
4. Para siswa harus membagi tugas dan berbagai tanggungjawab sama besarnya diantara para anggota kelompok;
5. Para siswa akan diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut berpengaruh terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok;
6. Para siswa berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh keterampilan bekerjasama selama belajar;
7. Para siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif (Lundgen dalam Ratumanan, 2004: 109).
Depdiknas (Hakiim, Lukmanul, 2008: 54) menambahkan unsur-unsur essensial dalam pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
1. Ketergantungan Positif
Anggota kelompok harus saling tergantung untuk mencapai tujuan. Jika ada anggota yang gagal mengerjakan tugasnya maka setiap anggota harus menerima konsekuensinya.
2. Kemampuan Individual
Seluruh siswa dalam satu kelompok memiliki tanggung jawab melakukan pekerjaannya dan menguasai seluruh bahan untuk dipelajari.
3. Promosi tatap muka interaktif
Meskipun beberapa kelompok kerja dibagi-bagikan dan dilakukan tiap individu, beberapa diantarannya harus dilakukan secara interaktif, anggota kelompok saling memberikan timbal balik.
4. Manfaat dari penggabungan keahliah yang tepat
Siswa didorong dan dibantu untuk mengembangkan dan mempraktekkan pembangunan kepercayaan, kepemimpinan, pembuatan keputusan, komunikasi dan konflik manajemen keahlian.

5. Kelompok Proses
Anggota kelompok mengatur kelompok, secara periodik menilai apa yang mereka lakukan dengan baik sebagai sebuah kelompok dan mengidentifikasi perubahan yang akan mereka lakukan agar fungsi mereka lebih efektif di waktu selanjutnya.
Berdasarkan unsur-unsur dalam pembelajaran kooperatif maka, peranan guru dalam pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
1. Menentukan objek pembelajaran;
2. Membuat keputusan menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar sebelum pembelajaran dimulai;
3. Menerangkan tugas dan tujuan akhir pada siswa;
4. Menguasai kelompok belajar dan menyediakan keperluan tugas;
5. Mengevaluasi prestasi siswa dan membantu siswa dengan cara mendiskusikan cara kerjasama.

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

PEMBELAJARAN KOOPERATIF

 

 

A. Pembelajaran Kooperatif
Kauchak dan Eggen (dalam Ratumanan, 2004: 107) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan suatu kumpulan strategi mengajar yang digunakan siswa untuk membantu satu dengan yang lain dalam mempelajari sesuatu. Sedangkan menurut Thompson dan Smith (dalam Ratumanan, 2004: 107) yakni dalam pembeajaran kooperataif, siswa bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil untuk mempelajari akademik dan ketrampilan antar pribadi
Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu metode pembelajaran dengan cara mengelompokkan siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk bekerja sama dalam memecahkan masalah. Kemampuan siswa dalam setiap kelompok adalah hiterogen. Dalam pembelajaran kooperatif siswa tidak hanya sebagai objek belajar tetapi menjadi subjek belajar karena mereka dapat berkreasi secara maksimal dalam proses pembelajaran. Hal ini terjadi karena pembelajaran kooperatif merupakan metode alternatif dalam mendekati permasalahan, mampu mengerjakan tugas besar, meningkatkan keterampilan komunikasi dan sosial, serta perolehan kepercayaan diri.
Pembelajaran ini siswa saling mendorong untuk belajar, saling memperkuat upaya-upaya akademik dan menerapkan norma yang menunjang pencapaian hasil belajar yang tinggi. Dalam pembelajaran kooperatif lebih mengutamakan sikap sosial untuk mencapai tujuan pembelajaran yaitu dengan cara kerjasama.
Pembelajaran kooperatif mempunyai unsur-unsur yang perlu diperhatikan. Unsur-unsur tersebut sebagai berikut:
1. Para siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka “tenggelam atau berenang bersama”;
2. Para siswa memiliki tanggung jawab terhadap siswa lain dalam kelompoknya, disamping tanggungjawab terhadap dirinya sendiri, dalam mempelajari materi yang dihadapi;
3. Para siswa harus berpandangan bahwa mereka semuanya memiliki tujuan yang sama;
4. Para siswa harus membagi tugas dan berbagai tanggungjawab sama besarnya diantara para anggota kelompok;
5. Para siswa akan diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut berpengaruh terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok;
6. Para siswa berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh keterampilan bekerjasama selama belajar;
7. Para siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif (Lundgen dalam Ratumanan, 2004: 109).
Depdiknas (Hakiim, Lukmanul, 2008: 54) menambahkan unsur-unsur essensial dalam pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
1. Ketergantungan Positif
Anggota kelompok harus saling tergantung untuk mencapai tujuan. Jika ada anggota yang gagal mengerjakan tugasnya maka setiap anggota harus menerima konsekuensinya.
2. Kemampuan Individual
Seluruh siswa dalam satu kelompok memiliki tanggung jawab melakukan pekerjaannya dan menguasai seluruh bahan untuk dipelajari.
3. Promosi tatap muka interaktif
Meskipun beberapa kelompok kerja dibagi-bagikan dan dilakukan tiap individu, beberapa diantarannya harus dilakukan secara interaktif, anggota kelompok saling memberikan timbal balik.
4. Manfaat dari penggabungan keahliah yang tepat
Siswa didorong dan dibantu untuk mengembangkan dan mempraktekkan pembangunan kepercayaan, kepemimpinan, pembuatan keputusan, komunikasi dan konflik manajemen keahlian.

5. Kelompok Proses
Anggota kelompok mengatur kelompok, secara periodik menilai apa yang mereka lakukan dengan baik sebagai sebuah kelompok dan mengidentifikasi perubahan yang akan mereka lakukan agar fungsi mereka lebih efektif di waktu selanjutnya.
Berdasarkan unsur-unsur dalam pembelajaran kooperatif maka, peranan guru dalam pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
1. Menentukan objek pembelajaran;
2. Membuat keputusan menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar sebelum pembelajaran dimulai;
3. Menerangkan tugas dan tujuan akhir pada siswa;
4. Menguasai kelompok belajar dan menyediakan keperluan tugas;
5. Mengevaluasi prestasi siswa dan membantu siswa dengan cara mendiskusikan cara kerjasama.

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

KAKEKAT MATEMATIKA

A.Hakekat Matematika
Matematika adalah suatu alat untuk mengembangkan cara berpikir. Karena itu matematika sangat diperlukan baik untuk kehidupan sehari–hari maupun dalam menghadapi kemajuan IPTEK sehingga matematika perlu dibekalkan kepada setiap peserta didik sejak SD, bahkan sejak TK. Namun matematika yang ada pada hakekatnya suatu ilmu yang cara bernalarnya deduktif formal dan abstrak, harus diberikan kepada anak-anak sejak SD yang cara berpikirnya masih pada tahap operasi konkret. Oleh karena itu kita perlu berhati–hati dalam menanamkan konsep matematika (Hudojo, 2001:45).
Sebagai guru matematika perlu disadarkan bahwa matematika mempunyai obyek–obyek yang abstrak. Dengan demikian seorang guru harus berhati–hati dalam menanamkan konsep–konsep matematika kepada siswanya, sebab sekali matematika salah diterima siswa, akan sangat sulit untuk mengubah pengertian yang salah tersebut. Oleh sebab itu, untuk pelaksanaan pembelajaran matematika perlu kiranya dipahami tentang definisi dan karakteristik matematika. Hal ini bertujuan agar proses pembelajaran matematika dapat dilangsungkan dengan manusiawi (Masykur dan Fathani, 2007:44). Definisi dan karateristik matematika adalah sebagai berikut ini:
1. Definisi matematika.
Istilah matematika berasal dari kata yunani mathein atau mathenein yang artinya mempelajari. Mungkin juga kata tersebut erat hubungannya dengan kata sansekerta medha atau widya yang artinya kepandaian, ketahuan atau “intelegensi”.
Definisi matematika berdasarkan sudut pandang pembuatannya sebagaimana disebutkan Soedjadi (2000:11) sebagai berikut :
a. matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak dan terorganisir secara sistematik;
b. matematika adalah pengetahuan tentang bilangan dan kalkulasi;
c. matematika adalah pengetahuan tentang penalaran logik dan berhubungan dengan bilangan;
d. matematika adalah pengetahuan tentang fakta–fakta kuantitatif dan masalah ruang dan bentuk;
e. matematika adalah pengetahuan struktur–struktur yang logik;
f. matematika adalah pengetahuan tentang aturan –aturan yang ketat.
2. Karakteristik matematika
Tidak ada definisi tunggal matematika yang telah disepakati. Meskipun demikian, setelah sedikit mendalami masing–masing definisi yang saling berbeda itu dapat terlihat adanya ciri–ciri khusus atau karakteristik yang dapat merangkum pengertian matematika secara umum. Adapun karakteristik matematika, yaitu :

a. Memiliki obyek kajian abstrak
Obyek dasar matematika adalah sebagai berikut:
1. fakta berupa konvensi–konvensi yang diungkapkan dengan simbol–simbol tertentu;
2. konsep adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk menggolongkan atau mengklasifikasikan sekumpulan obyek;
3. operasi adalah pengerjaan hitung, pengerjaan aljabar, dan pengerjaan matematika yang lain;
4. prinsip adalah obyek matematika yang komplek. prinsip dapat terdiri atas beberapa fakta dan beberapa konsep yang dikaitkan oleh suatu relasi ataupun operasi.
b. Bertumpu pada kesepakatan
Seperti halnya dalam kehidupan sehari–hari, termasuk kehidupan berbangsa dan bernegara, terdapat banyak kesepakatan yang mengikat semua anggota masyarakat. Dalam matematika kesepakatan merupakan tumpuan yang amat penting. Kesepakatan diperlukan untuk menghindarkan berputar–putar dalam pendefinisian dan pembuktian.
c. Berpola pikir deduktif
Pola pikir deduktif merupakan pemikiran “yang berpangkal dari hal yang bersifat umum diterapkan atau diarahkan kepada hal yang bersifat khusus”.

d. Memiliki simbol yang kosong dari arti
Simbol yang kosong dari arti dapat dimanfaatkan oleh yang memerlukan matematika sebagai alat yang menempatkan matematika sebagai bahasa simbol.
e. Memperhatikan semesta pembicaraan
Dalam menggunakan matematika diperlukan kejelasan dalam lingkup apa matematika dipakai.
f. Konsisten dalam sistemnya
Dalam matematika terdapat banyak sistem. Ada sistem yang mempunyai kaitan satu sama lain, tetapi ada sistem yang dapat dipandang terlepas satu sama lain. Sistem yang berkaitan satu sama lain memerlukan konsistensi agar tidak terjadi ambiguitas (Soedjadi, 2000:13–18).
Uraian di atas dapat dijadikan landasan awal untuk belajar dan mengajar dalam melaksanakan proses pembelajaran matematika.

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar

HAKEKAT MATEMATIKA

A. Hakekat Matematika
Matematika adalah suatu alat untuk mengembangkan cara berpikir. Karena itu matematika sangat diperlukan baik untuk kehidupan sehari–hari maupun dalam menghadapi kemajuan IPTEK sehingga matematika perlu dibekalkan kepada setiap peserta didik sejak SD, bahkan sejak TK. Namun matematika yang ada pada hakekatnya suatu ilmu yang cara bernalarnya deduktif formal dan abstrak, harus diberikan kepada anak-anak sejak SD yang cara berpikirnya masih pada tahap operasi konkret. Oleh karena itu kita perlu berhati–hati dalam menanamkan konsep matematika (Hudojo, 2001:45).
Sebagai guru matematika perlu disadarkan bahwa matematika mempunyai obyek–obyek yang abstrak. Dengan demikian seorang guru harus berhati–hati dalam menanamkan konsep–konsep matematika kepada siswanya, sebab sekali matematika salah diterima siswa, akan sangat sulit untuk mengubah pengertian yang salah tersebut. Oleh sebab itu, untuk pelaksanaan pembelajaran matematika perlu kiranya dipahami tentang definisi dan karakteristik matematika. Hal ini bertujuan agar proses pembelajaran matematika dapat dilangsungkan dengan manusiawi (Masykur dan Fathani, 2007:44). Definisi dan karateristik matematika adalah sebagai berikut ini:
1. Definisi matematika.
Istilah matematika berasal dari kata yunani mathein atau mathenein yang artinya mempelajari. Mungkin juga kata tersebut erat hubungannya dengan kata sansekerta medha atau widya yang artinya kepandaian, ketahuan atau “intelegensi”.
Definisi matematika berdasarkan sudut pandang pembuatannya sebagaimana disebutkan Soedjadi (2000:11) sebagai berikut :
a. matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak dan terorganisir secara sistematik;
b. matematika adalah pengetahuan tentang bilangan dan kalkulasi;
c. matematika adalah pengetahuan tentang penalaran logik dan berhubungan dengan bilangan;
d. matematika adalah pengetahuan tentang fakta–fakta kuantitatif dan masalah ruang dan bentuk;
e. matematika adalah pengetahuan struktur–struktur yang logik;
f. matematika adalah pengetahuan tentang aturan –aturan yang ketat.
2. Karakteristik matematika
Tidak ada definisi tunggal matematika yang telah disepakati. Meskipun demikian, setelah sedikit mendalami masing–masing definisi yang saling berbeda itu dapat terlihat adanya ciri–ciri khusus atau karakteristik yang dapat merangkum pengertian matematika secara umum. Adapun karakteristik matematika, yaitu :

a. Memiliki obyek kajian abstrak
Obyek dasar matematika adalah sebagai berikut:
1. fakta berupa konvensi–konvensi yang diungkapkan dengan simbol–simbol tertentu;
2. konsep adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk menggolongkan atau mengklasifikasikan sekumpulan obyek;
3. operasi adalah pengerjaan hitung, pengerjaan aljabar, dan pengerjaan matematika yang lain;
4. prinsip adalah obyek matematika yang komplek. prinsip dapat terdiri atas beberapa fakta dan beberapa konsep yang dikaitkan oleh suatu relasi ataupun operasi.
b. Bertumpu pada kesepakatan
Seperti halnya dalam kehidupan sehari–hari, termasuk kehidupan berbangsa dan bernegara, terdapat banyak kesepakatan yang mengikat semua anggota masyarakat. Dalam matematika kesepakatan merupakan tumpuan yang amat penting. Kesepakatan diperlukan untuk menghindarkan berputar–putar dalam pendefinisian dan pembuktian.
c. Berpola pikir deduktif
Pola pikir deduktif merupakan pemikiran “yang berpangkal dari hal yang bersifat umum diterapkan atau diarahkan kepada hal yang bersifat khusus”.

d. Memiliki simbol yang kosong dari arti
Simbol yang kosong dari arti dapat dimanfaatkan oleh yang memerlukan matematika sebagai alat yang menempatkan matematika sebagai bahasa simbol.
e. Memperhatikan semesta pembicaraan
Dalam menggunakan matematika diperlukan kejelasan dalam lingkup apa matematika dipakai.
f. Konsisten dalam sistemnya
Dalam matematika terdapat banyak sistem. Ada sistem yang mempunyai kaitan satu sama lain, tetapi ada sistem yang dapat dipandang terlepas satu sama lain. Sistem yang berkaitan satu sama lain memerlukan konsistensi agar tidak terjadi ambiguitas (Soedjadi, 2000:13–18).
Uraian di atas dapat dijadikan landasan awal untuk belajar dan mengajar dalam melaksanakan proses pembelajaran matematika.

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

TEORI VAN HIELE

A. Teori Van Hiele
Teori Van Hiele menjelaskan perkembangan berpikir siswa dalam belajar geometri (Olive, 1991:91; Schoen & Hallas, 1993:108 dan Anne, 1999). Menurut teori Van Hiele, seseorang akan melalui lima tahap perkembangan berpikir dalam belajar geometri (Clements & Battista, 1990:356-357; Orton, 1992:72; Burger & Culpepper, 1993:141-142 dan Muser & Burger, 1994:529-531). Kelima tahap perkembangan berpikir dalam pembelajaran geometri Van Hiele adalah tahap 0 (visualisasi), tahap 1 (analisis), tahap 2 (deduksi informal), tahap 3 (deduksi), dan tahap 4 (rigor) (diakses dari internet tanggal 01 Januari 2011).

Tahap berpikir van Hiele dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Tahap 0 (visualisasi)
Tahap ini juga dikenal dengan tahap dasar, tahap rekognisi, tahap holistik dan tahap visual. Dalam tahap ini siswa mengenal bentuk-bentuk geometri hanya sekedar karakteristik visual dan penampakannya. Siswa tidak terfokus pada sifat-sifat obyek yang diamati, tetapi memandang obyek sebagai keseluruhan. Oleh karena itu, pada tahap ini siswa tidak dapat memahami dan menentukan sifat geometri dan karakteristik bangun yang ditunjukkan.
2. Tahap 1 (analisis)
Tahap ini juga dikenal dengan tahap deskriptif. Pada tahap ini sudah tampak adanya analisis terhadap konsep dan sifat-sifatnya. Siswa dapat menentukan sifat-sifat suatu bangun dengan melakukan pengamatan, pengukuran, eksperimen, menggambar dan membuat model. Meskipun demikian, siswa belum sepenuhnya dapat menjelaskan hubungan antara sifat-sifat tersebut, belum dapat melihat hubungan antara beberapa geometri dan definisi tidak dapat dipahami oleh siswa.
3. Tahap 2 (deduksi informal)
Tahap ini dikenal dengan tahap abstrak, tahap abstrak/relasional, tahap teoritik, dan tahap ordering. Pada tahap ini, siswa sudah dapat melihat hubungan sifat-sifat pada suatu bangun geometri dan sifat-sifat dari berbagai bangun dengan menggunakan deduksi informal, dan dapat mengklasifikasikan bangun-bangun secara hirarki. Meskipun demikian, siswa belum mengerti bahwa deduksi logis adalah metode untuk membangun geometri.
4. Tahap 3 (deduksi)
Tahap ini juga dikenal dengan tahap deduksi formal. Pada tahap ini siswa dapat menyusun bukti, tidak hanya sekedar menerima bukti. Siswa dapat menyusun teorema dalam sistem aksiomatik. Pada tahap ini siswa berpeluang untuk mengembangkan bukti lebih dari satu cara. Perbedaan antara pernyataan dan konversinya dapat dibuat dan siswa menyadari perlunya pembuktian melalui serangkaian penalaran deduktif.
5. Tahap 4 (rigor)
Tahap ini juga disebut dengan tahap metamatematika. Pada tahap ini siswa bernalar secara formal dalam sistem matematika dan dapat menganalisis konsekuensi dari manipulasi aksioma dan definisi. Siswa dapat membandingkan sistem–sistem berdasarkan pada aksioma yang berbeda dan dapat menelaah macam–macam geometri tanpa menghadirkan model konkrit. Saling keterkaitan antara bentuk yang tidak didefinisikan, aksioma, definisi, teorema dan pembuktian formal dapat dipahami (Muhsetyo, Gatot, 20071.14-1.16).
Tahap–tahap tersebut akan dilalui siswa secara berurutan (Keyes, 1997 dan Anne, 1999). Dengan demikian siswa harus melewati suatu tahap dengan matang sebelum menuju tahap berikutnya. Kecepatan berpindah dari suatu tahap ke tahap berikutnya lebih banyak bergantung pada isi dan metode pembelajaran dari pada umur dan kematangan (Keyes, 1997 dan Schoene Hallas, 1993:108). Dengan demikian, guru harus menyediakan pengalaman belajar yang cocok dengan tahap berfikir siswa (http://mulin-unisma.blogspot.com-pembelajaran-geometri-berdasarkan-tahap.html).
Tingkat berfikir siswa dalam belajar geometri menurut teori Van Hiele banyak bergantung pada isi dan metode pembelajaran. Oleh karena itu, perlu disediakan aktivitas–aktivitas yang sesuai dengan tingkat berfikir siswa. Siswa SMP/MTs pada umumnya sudah sampai pada tahap berfikir deduksi informal. Hal ini sesuai dengan pendapat Van De Walle (1990:270) yang menyatakan bahwa sebagian besar siswa SMP/MTs berada pada tahap 0 (visualisasi) sampai tahap 2 (deduksi informal) (http://mulin-unisma.blogspot.com-pembelajaran-geometri-berdasarkan-tahap.html).

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.
Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar